Diabetes sering kali dianggap sebagai penyakit yang hanya dialami oleh orang lanjut usia. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus diabetes di usia muda menunjukkan tren yang semakin meningkat. Gaya hidup yang kurang sehat, pola makan tinggi gula, minimnya aktivitas fisik, hingga obesitas menjadi beberapa faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit ini pada remaja maupun orang dewasa muda.
Yang perlu diwaspadai, diabetes sering berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Akibatnya, banyak orang baru menyadari dirinya mengidap diabetes setelah kadar gula darah sudah tinggi atau bahkan ketika muncul komplikasi. Oleh karena itu, memahami penyebab diabetes di usia muda serta langkah-langkah pencegahannya menjadi hal yang penting agar kesehatan tetap terjaga sejak dini.
Diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika kadar gula (glukosa) dalam darah terlalu tinggi karena tubuh tidak mampu memproduksi insulin yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Insulin sendiri merupakan hormon yang diproduksi oleh pankreas dan berfungsi membantu glukosa masuk ke dalam sel untuk diubah menjadi energi.
Secara umum, terdapat dua jenis diabetes yang paling sering dikenal, yaitu:
Diabetes tipe 1, yang umumnya disebabkan oleh gangguan autoimun sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin.
Diabetes tipe 2, yang lebih sering berkaitan dengan gaya hidup, kelebihan berat badan, dan resistensi insulin. Jenis inilah yang kini semakin banyak ditemukan pada usia muda.
Meningkatnya kasus diabetes pada usia muda tidak terjadi tanpa alasan. Perubahan gaya hidup modern membuat banyak orang lebih rentan mengalami gangguan metabolisme sejak usia produktif.
Berikut beberapa penyebab yang paling umum.
Konsumsi minuman manis, makanan cepat saji, camilan tinggi gula, dan makanan olahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes.
Asupan gula yang terlalu tinggi dalam jangka panjang membuat tubuh bekerja lebih keras menghasilkan insulin. Jika kondisi ini terus berlangsung, sensitivitas tubuh terhadap insulin dapat menurun sehingga kadar gula darah menjadi sulit dikendalikan.
Gaya hidup yang cenderung banyak duduk (sedentary lifestyle) menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko diabetes pada usia muda.
Jarang berolahraga menyebabkan tubuh lebih sulit menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Akibatnya, kadar gula darah dapat meningkat dan memicu resistensi insulin.
Kelebihan lemak tubuh, terutama di area perut, dapat mengganggu cara kerja insulin. Semakin tinggi indeks massa tubuh (IMT), semakin besar pula risiko seseorang mengalami diabetes tipe 2.
Karena itu, menjaga berat badan ideal menjadi salah satu langkah penting dalam pencegahan diabetes.
Riwayat diabetes dalam keluarga juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki diabetes, peluang untuk mengalami kondisi serupa menjadi lebih tinggi.
Meski demikian, faktor genetik bukanlah satu-satunya penyebab. Pola hidup sehat tetap dapat membantu menurunkan risiko meskipun memiliki riwayat keluarga dengan diabetes.
Tidur yang tidak cukup atau memiliki kualitas tidur yang buruk ternyata dapat memengaruhi metabolisme tubuh.
Kurang tidur dalam jangka panjang dapat meningkatkan hormon stres dan mengganggu sensitivitas insulin, sehingga kadar gula darah menjadi lebih sulit dikontrol.
Stres kronis dapat memicu peningkatan hormon kortisol. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi kadar gula darah dan meningkatkan risiko resistensi insulin.
Selain itu, stres sering kali membuat seseorang lebih mudah mengonsumsi makanan tinggi gula atau lemak sebagai pelampiasan.
Merokok tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan paru-paru dan jantung, tetapi juga dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
Zat kimia dalam rokok dapat mengganggu fungsi insulin dan meningkatkan peradangan dalam tubuh.
Pada tahap awal, diabetes sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Namun, beberapa tanda berikut patut diwaspadai:
Sering merasa haus.
Lebih sering buang air kecil.
Mudah lapar meski sudah makan.
Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
Mudah lelah.
Penglihatan menjadi kabur.
Luka yang sulit sembuh.
Sering mengalami infeksi kulit atau gusi.
Apabila mengalami beberapa gejala tersebut, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan kadar gula darah di fasilitas kesehatan agar dapat memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.
Kabar baiknya, sebagian besar kasus diabetes tipe 2 dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat.
Perbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, serta makanan tinggi serat.
Sebaliknya, batasi konsumsi makanan tinggi gula tambahan, minuman berpemanis, makanan cepat saji, dan makanan tinggi lemak jenuh.
Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan insulin dengan lebih efektif. Disarankan melakukan olahraga intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu, seperti berjalan cepat, bersepeda, berenang, atau jogging.
Selain olahraga terjadwal, biasakan juga bergerak lebih aktif dalam aktivitas sehari-hari, misalnya menggunakan tangga dibandingkan lift atau berjalan kaki untuk jarak yang dekat.
Menurunkan berat badan, meskipun hanya beberapa persen dari berat badan awal bagi yang mengalami kelebihan berat badan, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan risiko diabetes.
Kombinasi pola makan sehat dan olahraga teratur merupakan cara terbaik untuk mencapai berat badan yang ideal.
Minuman seperti soda, teh manis, kopi dengan tambahan gula berlebih, serta minuman kemasan mengandung gula yang cukup tinggi.
Mengurangi konsumsi minuman berpemanis merupakan salah satu langkah sederhana tetapi efektif dalam menjaga kadar gula darah tetap normal.
Usahakan tidur selama 7–9 jam setiap malam agar metabolisme tubuh tetap optimal.
Tidur yang berkualitas juga membantu mengendalikan hormon yang berperan dalam mengatur rasa lapar dan kadar gula darah.
Temukan cara yang sehat untuk mengelola stres, seperti berolahraga, melakukan hobi, meditasi, atau berbicara dengan orang yang dipercaya.
Mengendalikan stres tidak hanya baik untuk kesehatan mental, tetapi juga membantu menjaga kesehatan fisik secara keseluruhan.
Bagi kamu yang memiliki riwayat diabetes dalam keluarga atau memiliki faktor risiko lain, pemeriksaan kadar gula darah secara rutin sangat dianjurkan.
Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan.
Diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi serius, seperti penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, kerusakan saraf, gangguan penglihatan, hingga luka yang sulit sembuh.
Karena itu, menerapkan gaya hidup sehat sejak usia muda bukan hanya membantu mencegah diabetes, tetapi juga menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.
Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, seperti memilih makanan yang lebih sehat, rutin berolahraga, dan menjaga berat badan, dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan di masa depan.
Diabetes di usia muda semakin banyak terjadi dan tidak boleh dianggap remeh. Penyakit ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola makan yang kurang sehat, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, faktor keturunan, hingga kebiasaan hidup yang tidak mendukung kesehatan.
Kabar baiknya, risiko diabetes tipe 2 dapat dikurangi melalui perubahan gaya hidup yang konsisten. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, membatasi asupan gula, tidur yang cukup, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah-langkah penting untuk menjaga kadar gula darah tetap normal.
Dengan memahami penyebab diabetes di usia muda dan menerapkan pola hidup sehat sejak sekarang, kamu dapat melindungi diri dari risiko penyakit ini sekaligus menjaga kesehatan dan produktivitas hingga masa depan.
Kesehatan adalah investasi terbaik yang perlu dipersiapkan sejak dini. Selain menerapkan gaya hidup sehat, memiliki perlindungan finansial juga penting agar kamu dan keluarga lebih siap menghadapi risiko kesehatan yang tidak terduga.
Melalui berbagai pilihan produk Bancassurance Bank Sinarmas, kamu bisa mendapatkan solusi perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan, mulai dari asuransi kesehatan, penyakit kritis, hingga perlindungan jiwa untuk membantu menjaga kondisi finansial di masa depan.
👉 Temukan informasi lengkap mengenai pilihan produk perlindungan di Bancassurance Bank Sinarmas di sini.
👉 Butuh informasi layanan perbankan lainnya? Kunjungi juga halaman layanan resmi Bank Sinarmas berikut.
✨ Download dan pakai SimobiPlus sekarang juga di sini dan buat setiap langkah investasimu berarti.
Date Create : 13/07/2026Maksimum nilai simpanan yang dijamin LPS
per Nasabah per bank adalah Rp2 miliar.
Untuk mengetahui tingkat suku bunga penjaminan LPS dapat dilihat di sini
© 2018 PT. Bank Sinarmas Tbk.