ARTIKEL

IHSG Turun? Ini Strategi Investasi yang Bisa Kamu Terapkan

IHSG Turun? Ini Strategi Investasi yang Bisa Kamu Terapkan

Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan, tidak sedikit investor yang langsung merasa khawatir. Warna merah di layar perdagangan sering kali memicu kepanikan hingga keputusan menjual aset secara terburu-buru. 

Padahal, bagi investor yang memiliki strategi dan tujuan jangka panjang, kondisi pasar yang sedang melemah justru dapat menjadi kesempatan untuk membangun portofolio yang lebih kuat.

Fluktuasi IHSG merupakan hal yang wajar dalam dunia investasi. Pergerakan indeks dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, perubahan suku bunga, inflasi, nilai tukar rupiah, hingga sentimen pasar. Oleh karena itu, memahami strategi investasi saat IHSG turun menjadi penting agar kamu tidak hanya fokus pada risiko, tetapi juga mampu melihat peluang yang ada.

Mengapa IHSG Bisa Turun?

Sebelum menentukan strategi investasi, ada baiknya memahami penyebab IHSG mengalami pelemahan. Penurunan indeks tidak selalu menandakan kondisi ekonomi sedang buruk. Terkadang, koreksi pasar terjadi karena investor sedang melakukan aksi ambil untung (profit taking), munculnya sentimen negatif dari luar negeri, atau adanya ketidakpastian ekonomi.

Selain itu, kenaikan suku bunga acuan, inflasi yang tinggi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga konflik geopolitik juga dapat memengaruhi pergerakan pasar saham. Ketika faktor-faktor tersebut memicu kekhawatiran investor, tekanan jual meningkat sehingga IHSG ikut terkoreksi.

Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa pasar saham memiliki siklus. Setelah mengalami penurunan, pasar umumnya memiliki peluang untuk kembali pulih seiring membaiknya kondisi ekonomi dan meningkatnya kepercayaan investor.

Jangan Panik, Tetap Fokus pada Tujuan Investasi

Kesalahan yang paling sering dilakukan investor saat IHSG turun adalah mengambil keputusan berdasarkan emosi. Ketika harga saham terus menurun, banyak orang memilih menjual seluruh investasinya karena takut mengalami kerugian yang lebih besar.

Padahal, kerugian baru benar-benar terjadi ketika aset dijual pada harga yang lebih rendah dibandingkan harga beli. Jika kamu memiliki tujuan investasi jangka panjang, seperti dana pendidikan, dana pensiun, atau membangun kekayaan, maka fluktuasi jangka pendek seharusnya tidak langsung mengubah rencana investasi.

Investor yang sukses umumnya tetap berpegang pada strategi yang telah disusun sejak awal dan tidak mudah terpengaruh oleh pergerakan pasar harian.

Strategi Investasi saat IHSG Turun

Berikut beberapa strategi yang dapat dipertimbangkan ketika pasar saham sedang mengalami penurunan.

1. Tetap Berinvestasi Secara Berkala (Dollar Cost Averaging)

Salah satu strategi paling efektif ketika pasar sedang turun adalah menerapkan Dollar Cost Averaging (DCA) atau investasi rutin dengan nominal yang sama dalam periode tertentu.

Melalui strategi ini, kamu membeli aset secara konsisten tanpa perlu menebak kapan harga akan mencapai titik terendah. Saat harga saham turun, dana yang sama dapat membeli lebih banyak lembar saham. Sebaliknya, ketika harga naik, jumlah saham yang dibeli memang lebih sedikit, tetapi rata-rata harga pembelian menjadi lebih stabil dalam jangka panjang.

Strategi ini cocok bagi investor yang ingin mengurangi risiko akibat fluktuasi pasar.

2. Fokus pada Saham Berkualitas

Tidak semua saham layak dibeli hanya karena harganya turun. Penurunan harga belum tentu berarti saham tersebut murah atau memiliki prospek yang baik.

Saat IHSG melemah, prioritaskan perusahaan dengan fundamental yang kuat, seperti:

  • Memiliki pertumbuhan laba yang konsisten.

  • Arus kas yang sehat.

  • Tingkat utang yang terkendali.

  • Pangsa pasar yang baik.

  • Memiliki prospek bisnis jangka panjang.

Saham perusahaan berkualitas umumnya memiliki peluang lebih besar untuk pulih ketika kondisi pasar membaik.

3. Lakukan Diversifikasi Portofolio

Diversifikasi merupakan salah satu prinsip penting dalam investasi. Jangan menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset atau satu sektor industri saja.

Kamu dapat membagi investasi ke beberapa instrumen seperti:

  • Saham.

  • Reksa dana.

  • Obligasi.

  • Emas.

  • Deposito.

Diversifikasi membantu mengurangi risiko karena ketika salah satu aset mengalami penurunan, aset lainnya berpotensi memberikan stabilitas terhadap keseluruhan portofolio.

4. Siapkan Dana Tunai untuk Memanfaatkan Peluang

Ketika pasar mengalami koreksi, banyak saham berkualitas diperdagangkan pada valuasi yang lebih menarik dibandingkan sebelumnya.

Investor yang memiliki dana cadangan dapat memanfaatkan kondisi ini untuk melakukan pembelian secara bertahap. Namun, pastikan dana yang digunakan memang merupakan dana investasi, bukan dana kebutuhan sehari-hari atau dana darurat.

Dengan begitu, Kamu tidak perlu menjual investasi ketika membutuhkan uang dalam waktu dekat.

5. Hindari Mencoba Menebak Titik Terendah Pasar

Banyak investor berharap dapat membeli saham tepat di harga paling rendah. Sayangnya, hampir tidak ada yang mampu memprediksi kapan pasar benar-benar mencapai titik terendah.

Alih-alih menunggu waktu yang "sempurna", lebih baik lakukan pembelian secara bertahap sesuai rencana investasi. Strategi ini membantu mengurangi risiko salah menentukan waktu masuk pasar (market timing).

6. Evaluasi Portofolio Secara Berkala

Penurunan IHSG juga menjadi momen yang tepat untuk meninjau kembali portofolio investasi.

Evaluasi beberapa hal berikut:

  • Apakah komposisi aset masih sesuai dengan profil risiko?

  • Apakah terdapat saham yang fundamentalnya memburuk?

  • Apakah tujuan investasi masih sama?

  • Apakah alokasi investasi sudah seimbang?

Dengan melakukan evaluasi, kamu dapat mengambil keputusan berdasarkan data dan analisis, bukan sekadar mengikuti sentimen pasar.

Baca juga artikel menarik lainnya: Nggak Banyak yang Sadar, Ini 5 Alasan Kenapa Investasi Reksa Dana Cocok buat Milenial

7. Pahami Profil Risiko sebelum Menambah Investasi

Tidak semua investor memiliki toleransi risiko yang sama. Sebelum memanfaatkan penurunan IHSG sebagai peluang investasi, pastikan kamu memahami profil risiko pribadi.

Investor dengan profil konservatif mungkin lebih nyaman menambah porsi investasi pada instrumen yang relatif stabil, seperti obligasi atau reksa dana pendapatan tetap. Sementara itu, investor dengan profil agresif cenderung lebih siap menghadapi volatilitas saham demi potensi imbal hasil yang lebih tinggi dalam jangka panjang.

Menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko dapat membantu menjaga kenyamanan sekaligus mengurangi kemungkinan mengambil keputusan impulsif saat pasar bergejolak.

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari saat IHSG Turun

Selain mengetahui strategi yang tepat, penting juga memahami beberapa kesalahan yang sering dilakukan investor ketika pasar sedang melemah.

  • Menjual seluruh investasi karena panik menjadi kesalahan paling umum dilakukan investor. Keputusan ini sering kali didasarkan pada rasa takut, bukan analisis.

  • Menggunakan dana darurat untuk membeli saham juga bukan langkah yang disarankan. Dana darurat sebaiknya tetap tersedia untuk kebutuhan mendesak agar kamu tidak terpaksa menjual investasi ketika kondisi pasar belum pulih.

  • Selain itu, mengikuti rekomendasi tanpa melakukan riset dapat meningkatkan risiko investasi. Pastikan setiap keputusan didasarkan pada pemahaman terhadap kondisi perusahaan dan tujuan keuanganmu.

Peluang di Balik Penurunan IHSG

Banyak investor berpengalaman justru melihat penurunan IHSG sebagai kesempatan untuk memperoleh aset berkualitas dengan harga yang lebih menarik. Selama kondisi fundamental perusahaan tetap baik dan tujuan investasi bersifat jangka panjang, koreksi pasar dapat menjadi momentum untuk membangun portofolio yang lebih optimal.

Namun, penting untuk diingat bahwa setiap keputusan investasi tetap memiliki risiko. Oleh karena itu, lakukan analisis, sesuaikan dengan profil risiko, dan pastikan investasi dilakukan sesuai kemampuan finansial.

Penurunan IHSG bukan selalu menjadi pertanda buruk bagi investor. Dengan strategi yang tepat, seperti berinvestasi secara berkala, memilih saham berfundamental kuat, melakukan diversifikasi, menyiapkan dana investasi, serta menghindari keputusan emosional, kamu dapat memanfaatkan momentum koreksi pasar sebagai peluang untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang.

Siap mulai membangun portofolio investasi yang lebih kuat di tengah dinamika pasar? Bank Sinarmas menghadirkan berbagai pilihan instrumen investasi yang dapat disesuaikan dengan tujuan finansial dan profil risiko kamu.

Jika mengutamakan potensi imbal hasil yang stabil dengan risiko yang lebih terukur, Deposito Online bisa menjadi pilihan untuk menyimpan dana dalam jangka waktu tertentu. 

👉Yuk, buka Deposito Online Bank Sinarmas di sini.   

Sementara itu, bagi kamu yang ingin memanfaatkan peluang pertumbuhan pasar modal, Reksa Dana menawarkan beragam pilihan produk yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan investasimu.

👉 Kamu bisa mulai investasi reksa dana dengan mudah melalui SimobiPlus di sini.

👉 Download juga SimobiPlus melalui link berikut  dan buat setiap langkah investasimu berarti.

👉 Butuh informasi layanan perbankan lainnya? Kunjungi juga halaman layanan resmi Bank Sinarmas berikut.

Date Create : 13/07/2026
Bagikan          
flb
logobsim
Kantor Pusat Sinar Mas Land Plaza
Jl. M.H Thamrin kav 51,
Menara 1, Lantai 1 & 2,
Jakarta 10350 - Indonesia
Bank Sinarmas CARE 1500153
(021) 501 88888 Media Sosial Kami facebook     instagram     twitter     tiktok     youtube    
PT. Bank Sinarmas Tbk. berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) serta merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Maksimum nilai simpanan yang dijamin LPS
per Nasabah per bank adalah Rp2 miliar.
Untuk mengetahui tingkat suku bunga penjaminan LPS dapat dilihat di sini

Link
Sinarmas Asset Management Terbaik Investasi Reksadana
Sinarmas Sekuritas Terbaik Online Trading Investasi Saham
Bank Nano Syariah


© 2018 PT. Bank Sinarmas Tbk.