Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak, termasuk memastikan kehidupan mereka tetap terjamin di masa depan. Selain memberikan pendidikan dan mengajarkan cara mengelola keuangan, menyiapkan warisan juga dapat menjadi salah satu bentuk perencanaan keuangan jangka panjang yang perlu dipertimbangkan.
Warisan bukan hanya tentang rumah, tanah, kendaraan, atau sejumlah uang yang diberikan kepada anak. Lebih dari itu, warisan merupakan bagian dari perencanaan aset yang perlu dipersiapkan dengan matang agar dapat memberikan manfaat bagi generasi berikutnya dan meminimalkan potensi konflik keluarga.
Sayangnya, pembahasan mengenai warisan sering kali ditunda karena dianggap terlalu sensitif atau baru perlu dipikirkan ketika seseorang sudah lanjut usia. Padahal, semakin awal perencanaan dilakukan, semakin banyak waktu yang tersedia untuk menata aset dan menentukan bagaimana aset tersebut akan dikelola di kemudian hari.
Lalu, bagaimana cara menyiapkan warisan untuk anak? Berikut beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan.
Langkah pertama dalam menyiapkan warisan adalah mengetahui aset apa saja yang dimiliki. Tanpa mengetahui jumlah dan jenis aset secara menyeluruh, akan sulit membuat perencanaan warisan yang terstruktur.
Aset dapat berupa rumah, tanah, kendaraan, tabungan, deposito, investasi, emas, saham, bisnis, maupun aset berharga lainnya. Jangan lupa mencatat pula aset yang mungkin belum terlihat secara fisik, seperti hak kepemilikan usaha atau investasi tertentu.
Buat daftar aset secara berkala dan perbarui apabila terdapat perubahan. Misalnya, ketika membeli properti baru, menjual kendaraan, membuka rekening investasi, atau memperoleh aset lainnya.
Selain mencatat jenis aset, perhatikan pula dokumen kepemilikan masing-masing. Sertifikat tanah, bukti kepemilikan kendaraan, dokumen investasi, rekening, dan dokumen penting lainnya sebaiknya disimpan dengan aman.
Langkah sederhana ini dapat membantu keluarga mengetahui aset yang tersedia ketika nantinya dibutuhkan dalam proses pembagian warisan.
Setelah mengetahui seluruh aset, langkah berikutnya adalah menentukan aset mana yang ingin dipersiapkan sebagai bagian dari warisan untuk anak.
Tidak semua aset harus diberikan dalam bentuk yang sama. Sebagian orang mungkin memilih memberikan rumah sebagai aset jangka panjang, sementara sebagian lainnya menyiapkan dana tunai atau investasi.
Pertimbangkan tujuan dari pemberian aset tersebut. Misalnya, warisan berupa dana pendidikan dapat membantu anak melanjutkan sekolah, sedangkan aset produktif seperti properti atau kepemilikan usaha berpotensi memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Namun, keputusan mengenai pembagian aset perlu mempertimbangkan kondisi keluarga, status kepemilikan aset, serta ketentuan hukum yang berlaku. Jika aset memiliki nilai besar atau struktur kepemilikannya kompleks, sebaiknya pertimbangkan bantuan dari tenaga profesional yang kompeten.
Menyiapkan aset saja belum cukup. Kamu juga perlu memastikan dokumen yang berkaitan dengan aset dan rencana warisan tertata dengan baik.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah instrumen hukum yang dapat digunakan untuk mengatur pembagian harta setelah seseorang meninggal dunia. Bentuk dan mekanismenya dapat berbeda tergantung kondisi keluarga serta hukum yang berlaku.
Di Indonesia, persoalan warisan dapat berkaitan dengan hukum perdata, hukum Islam, maupun ketentuan lain sesuai kondisi pewaris dan ahli waris. Karena itu, jangan hanya mengandalkan kesepakatan secara lisan.
Jika ingin membuat wasiat atau dokumen hukum lainnya, pastikan prosesnya dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Kamu dapat berkonsultasi dengan notaris, advokat, konsultan hukum, atau pihak profesional lainnya agar dokumen yang dibuat memiliki dasar hukum yang tepat.
Perencanaan secara legal juga dapat membantu mengurangi potensi kesalahpahaman di antara anggota keluarga di kemudian hari.
Memberikan warisan kepada anak bukan berarti seluruh persoalan finansial mereka otomatis selesai. Justru, kemampuan anak dalam mengelola aset menjadi hal yang tidak kalah penting.
Bayangkan jika seorang anak menerima aset bernilai besar tetapi tidak memiliki pemahaman mengenai cara mengelolanya. Aset tersebut berpotensi digunakan secara tidak terencana atau bahkan habis dalam waktu singkat.
Karena itu, orang tua dapat mulai mengenalkan konsep pengelolaan keuangan sejak anak masih muda. Ajarkan pentingnya menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, mengelola utang, serta memahami risiko investasi.
Ketika anak sudah cukup dewasa, pembahasan mengenai aset keluarga juga dapat dilakukan secara bertahap. Tujuannya bukan semata-mata memberitahukan jumlah kekayaan yang dimiliki, tetapi membangun rasa tanggung jawab terhadap aset yang nantinya mungkin mereka kelola.
Menyiapkan warisan sejak dini memberikan waktu yang lebih panjang untuk membangun aset sekaligus melakukan evaluasi terhadap rencana keuangan keluarga.
Misalnya, orang tua memiliki tujuan untuk menyiapkan dana bagi anak dalam jangka panjang. Tujuan tersebut dapat dimasukkan ke dalam perencanaan keuangan sejak anak masih kecil sehingga terdapat waktu untuk mengumpulkan aset secara bertahap.
Perencanaan lebih awal juga memberikan kesempatan untuk mengevaluasi kondisi keuangan. Jika terjadi perubahan seperti bertambahnya anggota keluarga, perubahan penghasilan, pembelian properti, atau perubahan nilai investasi, rencana warisan dapat disesuaikan.
Dengan begitu, warisan tidak dipersiapkan secara mendadak, tetapi menjadi bagian dari perencanaan keuangan keluarga secara menyeluruh.
Ketika menyiapkan warisan untuk anak, orang tua juga perlu memastikan kebutuhan finansialnya sendiri tetap aman.
Jangan sampai seluruh aset dialokasikan untuk warisan, sementara dana pensiun, dana darurat, biaya kesehatan, dan kebutuhan hidup di masa depan justru tidak dipersiapkan.
Prinsipnya, membantu masa depan anak tetap penting, tetapi kondisi keuangan orang tua juga harus diperhatikan. Perencanaan yang sehat perlu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan saat ini, kebutuhan masa depan, dan aset yang akan diwariskan.
Jika memungkinkan, warisan dapat dipersiapkan dalam bentuk aset yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Contohnya adalah properti yang dapat disewakan, investasi tertentu, atau kepemilikan bisnis. Namun, setiap aset memiliki karakteristik, risiko, likuiditas, dan potensi keuntungan yang berbeda.
Jangan memilih aset hanya karena dianggap memiliki nilai tinggi. Pertimbangkan pula apakah anak nantinya mampu mengelola aset tersebut.
Warisan yang bernilai besar tetapi sulit dikelola belum tentu menjadi pilihan yang paling tepat. Sebaliknya, aset yang lebih sederhana tetapi mudah dikelola dapat memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan.
Perencanaan warisan memang merupakan keputusan pribadi, tetapi komunikasi dengan keluarga dapat membantu mengurangi potensi kesalahpahaman.
Jika kondisi memungkinkan, orang tua dapat memberikan pemahaman kepada anak mengenai prinsip pengelolaan aset dan nilai-nilai yang ingin diwariskan. Komunikasi juga dapat dilakukan secara bertahap sesuai usia dan tingkat kedewasaan anak.
Yang perlu diingat, pembicaraan mengenai warisan tidak harus selalu berfokus pada nominal atau siapa mendapatkan apa. Lebih penting lagi untuk membangun pemahaman bahwa aset tersebut memiliki tanggung jawab yang perlu dikelola dengan baik.
Rencana warisan tidak harus dibuat sekali kemudian dibiarkan tanpa perubahan. Kondisi keluarga dan nilai aset dapat berubah dari waktu ke waktu.
Karena itu, lakukan evaluasi secara berkala. Periksa kembali daftar aset, dokumen kepemilikan, rencana pembagian, serta kondisi anggota keluarga.
Jika terdapat perubahan besar dalam kehidupan, seperti pernikahan, kelahiran anak, perceraian, pembelian atau penjualan aset, maupun perubahan kondisi finansial, pertimbangkan untuk meninjau kembali rencana yang sudah dibuat.
Dengan evaluasi rutin, rencana warisan dapat tetap relevan dengan kondisi keluarga.
Menyiapkan warisan untuk anak sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru. Perencanaan dapat dimulai dengan mencatat seluruh aset, menentukan aset yang akan dipersiapkan, menata dokumen dan aspek legal, serta membekali anak dengan kemampuan mengelola keuangan dan aset.
Selain menyiapkan aset, pastikan kebutuhan finansial orang tua sendiri tetap aman. Warisan idealnya menjadi bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang, bukan sesuatu yang mengorbankan kebutuhan hidup saat ini.
Yang tidak kalah penting, pertimbangkan aspek hukum dalam pembagian warisan. Setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda sehingga konsultasi dengan profesional yang kompeten dapat membantu memastikan perencanaan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan perencanaan yang matang, warisan bukan sekadar peninggalan berupa harta, tetapi juga dapat menjadi bentuk perlindungan dan bekal bagi anak untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Jika kamu ingin mengelola aset sekaligus mempersiapkan perencanaan keuangan keluarga secara lebih menyeluruh, Bank Sinarmas melalui layanan Bank Sinarmas Prioritas hadir untuk membantu memberikan solusi finansial yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Mulai dari pengelolaan kekayaan hingga berbagai layanan eksklusif, kamu dapat merencanakan masa depan keluarga dengan lebih terarah.
Sudah saatnya aset yang kamu bangun hari ini menjadi bekal berharga untuk masa depan keluarga. Kenali lebih lanjut layanan dan berbagai keunggulan Bank Sinarmas Prioritas untuk membantu mewujudkan perencanaan keuangan dan warisan yang lebih terencana.
✨ Cari tahu lebih lanjut mengenai layanan Bank Sinarmas Prioritas di sini.
👉 Download SimobiPlus sekarang juga dan rasakan kemudahan transaksi digital dari Bank Sinarmas di sini.
👉 Butuh informasi layanan perbankan lainnya? Kunjungi juga halaman layanan resmi Bank Sinarmas berikut.
Maksimum nilai simpanan yang dijamin LPS
per Nasabah per bank adalah Rp2 miliar.
Untuk mengetahui tingkat suku bunga penjaminan LPS dapat dilihat di sini
© 2018 PT. Bank Sinarmas Tbk.