Menjalankan usaha bersama teman bisa menjadi pilihan menarik bagi kamu yang ingin memulai bisnis tetapi memiliki keterbatasan modal, pengalaman, atau sumber daya. Dengan menggabungkan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki masing-masing, sebuah usaha dapat dibangun bersama dan dikembangkan secara bertahap.
Namun, ada satu hal yang sering kali menjadi tantangan ketika menjalankan bisnis bersama teman, yaitu cara bagi hasil usaha dengan teman. Jika sejak awal tidak ada kesepakatan yang jelas, pembagian keuntungan bisa menjadi sumber kesalahpahaman. Apalagi jika kontribusi masing-masing pihak berbeda, baik dari sisi modal, waktu, keahlian, maupun tanggung jawab dalam menjalankan bisnis.
Karena itu, pembagian hasil sebaiknya tidak hanya didasarkan pada hubungan pertemanan. Justru, semakin dekat hubungan antara rekan bisnis, semakin penting untuk membuat aturan yang jelas agar urusan bisnis tidak mengganggu hubungan pribadi.
Ketika baru memulai usaha, pembagian keuntungan mungkin terasa seperti hal yang mudah dibicarakan. Kamu dan teman mungkin berpikir bahwa semuanya dapat diselesaikan dengan komunikasi sederhana.
Namun, situasinya bisa berubah ketika bisnis mulai menghasilkan keuntungan. Bisa saja salah satu pihak merasa bekerja lebih banyak, sementara pihak lainnya merasa kontribusi modalnya lebih besar. Jika tidak ada kesepakatan sejak awal, perbedaan persepsi seperti ini dapat menimbulkan konflik.
Oleh karena itu, sebelum usaha berjalan, bicarakan berbagai hal penting seperti jumlah modal, bentuk kontribusi, pembagian tugas, cara menghitung keuntungan, waktu pembagian hasil, hingga bagaimana jika usaha mengalami kerugian.
Dengan aturan yang jelas, masing-masing pihak memiliki acuan yang sama dalam menjalankan bisnis.
Langkah pertama dalam menentukan pembagian hasil adalah mengetahui kontribusi setiap pihak. Kontribusi tidak selalu berbentuk uang. Salah satu orang mungkin menyediakan sebagian besar modal, sedangkan teman lainnya mengelola operasional sehari-hari. Ada juga yang berkontribusi melalui keahlian, tempat usaha, peralatan, jaringan bisnis, atau kemampuan pemasaran.
Karena itu, jangan langsung menentukan pembagian keuntungan hanya berdasarkan siapa yang mengeluarkan uang paling banyak.
Coba buat daftar kontribusi masing-masing secara rinci. Misalnya, kamu memberikan modal Rp30 juta, sedangkan teman memberikan modal Rp20 juta dan bertanggung jawab mengelola operasional usaha. Dari sini, kamu dan teman dapat mendiskusikan nilai kontribusi secara lebih objektif.
Salah satu hal penting dalam bisnis bersama adalah membedakan antara modal, kompensasi atas pekerjaan, dan keuntungan usaha.
Modal merupakan dana atau aset yang digunakan untuk menjalankan bisnis. Sementara itu, jika salah satu pihak bekerja secara aktif dalam bisnis, bisa dipertimbangkan adanya gaji atau honor atas pekerjaan tersebut.
Setelah biaya operasional, kewajiban usaha, dan kompensasi yang telah disepakati diperhitungkan, barulah keuntungan bersih dapat dibagikan berdasarkan kesepakatan.
Pemisahan ini dapat membuat perhitungan menjadi lebih jelas. Jangan sampai seseorang merasa bahwa karena sudah menerima keuntungan, maka pekerjaannya dalam mengelola bisnis tidak perlu mendapatkan kompensasi tambahan, atau sebaliknya.
Jangan langsung membagi seluruh uang yang masuk dari penjualan sebagai keuntungan.
Pendapatan usaha masih harus dikurangi berbagai biaya, seperti pembelian bahan baku, sewa tempat, listrik, gaji karyawan, biaya pemasaran, transportasi, biaya platform, pajak atau kewajiban lainnya sesuai kondisi usaha. Setelah seluruh biaya diperhitungkan, barulah kamu dapat mengetahui keuntungan bersih.
Sebagai contoh sederhana, sebuah usaha memperoleh pendapatan Rp50 juta dalam satu bulan. Setelah dikurangi seluruh biaya usaha sebesar Rp35 juta, keuntungan bersihnya adalah Rp15 juta.
Jika berdasarkan kesepakatan keuntungan dibagi 60:40, maka Rp15 juta tersebut yang menjadi dasar pembagian, bukan Rp50 juta. Dengan cara ini, pembagian hasil tidak mengganggu kebutuhan modal dan operasional bisnis.
Setelah mengetahui kontribusi masing-masing, tentukan persentase pembagian keuntungan. Tidak harus selalu 50:50. Pembagian dapat disesuaikan dengan kesepakatan dan kontribusi setiap pihak.
Misalnya, jika kedua pihak memiliki modal dan tanggung jawab yang relatif sama, pembagian keuntungan 50:50 mungkin dapat digunakan. Namun, jika kontribusi berbeda, persentasenya bisa dibuat berbeda pula.
Contohnya, satu pihak memiliki kontribusi modal lebih besar, sedangkan pihak lainnya mengelola bisnis secara penuh. Dalam kondisi seperti ini, pembagian dapat disusun berdasarkan kombinasi kontribusi modal dan pekerjaan. Yang paling penting, persentase tersebut disepakati sebelum bisnis berjalan dan dicantumkan dalam perjanjian.
Meskipun partner bisnis adalah teman dekat, sebaiknya jangan hanya mengandalkan kesepakatan lisan. Buat perjanjian tertulis yang menjelaskan hak dan kewajiban masing-masing pihak. Dokumen tersebut dapat mencakup jumlah modal, bentuk kontribusi, persentase kepemilikan, pembagian keuntungan, pembagian kerugian, tanggung jawab masing-masing, mekanisme pengambilan keputusan, hingga ketentuan jika salah satu pihak ingin keluar dari bisnis.
Perjanjian tertulis bukan berarti kamu tidak percaya kepada teman. Justru, dokumen tersebut membantu menjaga hubungan karena masing-masing pihak memiliki aturan yang dapat dijadikan acuan ketika muncul perbedaan pendapat.
Untuk kerja sama dengan nilai atau risiko yang besar, pertimbangkan untuk meminta bantuan profesional seperti konsultan bisnis atau ahli hukum dalam menyusun perjanjian.
Selain menentukan persentase, tentukan juga kapan keuntungan akan dibagikan. Pembagian dapat dilakukan setiap bulan, setiap tiga bulan, atau periode tertentu sesuai karakteristik usaha. Tidak semua keuntungan harus langsung dibagikan karena sebagian mungkin perlu digunakan sebagai modal kerja atau dana pengembangan bisnis.
Misalnya, dari keuntungan bersih Rp20 juta, kamu dan teman sepakat membagikan 70% sebagai keuntungan dan menyimpan 30% sebagai dana pengembangan usaha.
Dengan adanya aturan seperti ini, bisnis tetap memiliki dana untuk membeli peralatan, menambah stok, melakukan promosi, atau menghadapi kebutuhan tak terduga.
Membicarakan keuntungan memang menyenangkan, tetapi bisnis juga memiliki risiko kerugian. Karena itu, pembagian kerugian perlu dibahas sejak awal.
Jangan hanya membuat aturan ketika bisnis mendapatkan keuntungan. Tentukan pula bagaimana kerugian akan ditanggung, terutama jika kerugian tersebut berasal dari kondisi bisnis normal.
Pembagian kerugian dapat mengikuti struktur kepemilikan atau ketentuan yang disepakati dalam perjanjian. Namun, jika kerugian disebabkan oleh tindakan tertentu seperti kelalaian atau pelanggaran kesepakatan, mekanismenya dapat diatur secara khusus.
Hal ini penting agar tidak terjadi saling menyalahkan ketika bisnis menghadapi masa sulit.
Kesalahan yang cukup sering terjadi dalam bisnis kecil adalah mencampurkan uang usaha dengan uang pribadi.
Agar pembagian hasil lebih mudah dihitung, sebaiknya gunakan rekening khusus untuk transaksi bisnis. Seluruh pendapatan usaha masuk ke rekening tersebut dan pengeluaran bisnis juga dibayarkan dari rekening yang sama.
Dengan begitu, kamu dan teman dapat mengetahui kondisi keuangan usaha secara lebih jelas. Pencatatan pemasukan dan pengeluaran pun menjadi lebih mudah.
Selain membantu pembagian keuntungan, pemisahan keuangan juga dapat membuat pengelolaan bisnis menjadi lebih profesional.
Kepercayaan dalam bisnis tidak hanya dibangun melalui hubungan pertemanan, tetapi juga melalui transparansi.
Catat setiap pemasukan dan pengeluaran secara rutin. Simpan bukti transaksi dan buat laporan keuangan sederhana yang dapat diperiksa oleh seluruh pihak yang terlibat.
Jika memungkinkan, gunakan aplikasi atau sistem pencatatan keuangan agar data dapat diakses dan dipantau sesuai kesepakatan.
Transparansi akan membuat setiap pihak mengetahui dari mana pendapatan berasal, ke mana uang digunakan, serta berapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh.
Bisnis dapat berubah seiring waktu. Modal bertambah, tanggung jawab bisa berubah, bahkan salah satu pihak mungkin mulai mengambil peran yang lebih besar.
Karena itu, kesepakatan pembagian hasil sebaiknya dievaluasi secara berkala.
Misalnya, pada awal usaha kedua pihak sama-sama aktif menjalankan bisnis. Namun setelah beberapa tahun, salah satu orang mulai mengelola operasional secara penuh. Dalam kondisi tersebut, struktur kompensasi atau pembagian keuntungan mungkin perlu dibicarakan kembali.
Perubahan sebaiknya dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dan dituangkan dalam dokumen agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Sebagai gambaran, kamu dan teman membuka bisnis makanan dengan total modal Rp50 juta. Kamu memberikan Rp30 juta, sementara teman memberikan Rp20 juta.
Selain modal, teman juga menangani operasional bisnis sehari-hari. Kalian kemudian menyepakati bahwa teman mendapatkan kompensasi atas pekerjaan operasional, sedangkan keuntungan bersih setelah seluruh biaya dan kompensasi diperhitungkan akan dibagi berdasarkan persentase yang telah disepakati.
Misalnya, keuntungan bersih yang siap dibagikan dalam satu periode adalah Rp10 juta. Jika kesepakatannya adalah 60:40, maka masing-masing memperoleh bagian sesuai persentase tersebut.
Contoh ini hanya ilustrasi. Dalam praktiknya, pembagian yang tepat harus disesuaikan dengan struktur modal, tanggung jawab, risiko, dan kesepakatan para pihak.
Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari ketika membangun bisnis bersama teman. Salah satunya adalah menganggap hubungan pertemanan sudah cukup menjadi dasar kerja sama tanpa perlu perjanjian.
Selain itu, hindari mengambil uang usaha untuk kebutuhan pribadi tanpa pencatatan. Jangan pula membuat keputusan besar secara sepihak, terutama keputusan yang berkaitan dengan utang, investasi tambahan, perubahan kepemilikan, atau penggunaan keuntungan.
Komunikasi secara rutin juga penting. Jangan menunggu muncul masalah baru kemudian membicarakan kondisi keuangan bisnis.
Mengetahui cara bagi hasil usaha dengan teman merupakan bagian penting sebelum memulai bisnis bersama. Pembagian keuntungan yang sehat sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan jumlah modal, tetapi juga memperhatikan kontribusi pekerjaan, tanggung jawab, risiko, dan kesepakatan kedua pihak.
Mulailah dengan menghitung kontribusi masing-masing, membedakan modal dengan kompensasi pekerjaan, menggunakan keuntungan bersih sebagai dasar pembagian, menentukan persentase yang disepakati, serta membuat perjanjian tertulis.
Tidak kalah penting, pisahkan keuangan pribadi dan bisnis, lakukan pencatatan transaksi secara transparan, serta evaluasi kerja sama secara berkala. Dengan pengelolaan yang jelas sejak awal, bisnis dapat berkembang tanpa harus mengorbankan hubungan pertemanan.
Sudah mendapatkan keuntungan dari usaha bersama? Saatnya kelola hasilnya dengan lebih bijak!
Jangan biarkan keuntungan usaha hanya berhenti di rekening dan habis untuk kebutuhan sesaat. Sisihkan sebagian dana dan mulai susun strategi keuangan yang dapat membantu kamu mempersiapkan berbagai tujuan di masa depan. Untuk dana yang ingin disimpan secara terencana, kamu bisa mempertimbangkan Deposito Online Bank Sinarmas yang dapat dibuka secara digital dengan pilihan jangka waktu yang fleksibel. Prosesnya cepat bisa langsung dari HP, bunga menarik, dan tenor fleksibel sesuai keinginanmu.
👉 Cari tahu lebih lanjut tentang Deposito Online Bank Sinarmas di sini
Sementara jika kamu ingin mulai mengembangkan dana melalui investasi, Reksa Dana Bank Sinarmas menyediakan beragam pilihan produk dan kategori yang bisa disesuaikan dengan tujuan serta profil risikomu.
👉 Lihat Pilihan Reksa Dana Bank Sinarmas di sini.
👉 Butuh informasi layanan perbankan lainnya? Kunjungi juga halaman layanan resmi Bank Sinarmas berikut.
✨ Yuk, download dan pakai SimobiPlus sekarang juga di sini dan buat setiap langkah investasimu berarti.
Maksimum nilai simpanan yang dijamin LPS
per Nasabah per bank adalah Rp2 miliar.
Untuk mengetahui tingkat suku bunga penjaminan LPS dapat dilihat di sini
© 2018 PT. Bank Sinarmas Tbk.