Dalam dunia bisnis dan akuntansi, perusahaan membutuhkan sumber pendanaan untuk menjalankan kegiatan operasional, melakukan ekspansi, membeli aset, maupun membiayai berbagai proyek jangka panjang. Salah satu cara yang dapat digunakan perusahaan untuk memperoleh dana adalah dengan menerbitkan obligasi.
Bagi perusahaan yang menerbitkan obligasi, dana yang diperoleh tersebut dicatat sebagai kewajiban atau utang. Dalam laporan keuangan, kewajiban tersebut dikenal dengan istilah bonds payable.
Istilah ini mungkin terdengar cukup asing bagi sebagian orang. Padahal, bonds payable merupakan salah satu konsep penting dalam akuntansi dan keuangan perusahaan karena berkaitan dengan cara perusahaan memperoleh pendanaan dari investor.
Lantas, apa itu bonds payable, bagaimana cara kerjanya, dan apa saja jenisnya? Simak penjelasan berikut.
Bonds payable adalah kewajiban atau utang jangka panjang yang dimiliki perusahaan kepada pihak yang membeli obligasi yang diterbitkan perusahaan tersebut.
Sederhananya, perusahaan menerbitkan obligasi untuk memperoleh dana dari investor. Sebagai imbalannya, perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar bunga sesuai ketentuan dan mengembalikan nilai pokok obligasi ketika mencapai tanggal jatuh tempo.
Dalam laporan posisi keuangan, bonds payable umumnya dikategorikan sebagai liabilitas jangka panjang apabila tanggal jatuh temponya lebih dari satu tahun sejak tanggal pelaporan.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan membutuhkan dana Rp10 miliar untuk membangun pabrik baru. Perusahaan kemudian menerbitkan obligasi senilai Rp10 miliar dengan tenor lima tahun dan tingkat bunga tertentu.
Investor membeli obligasi tersebut sehingga perusahaan memperoleh dana Rp10 miliar. Di sisi lain, perusahaan mencatat Rp10 miliar tersebut sebagai kewajiban yang harus dilunasi sesuai ketentuan obligasi.
Mekanisme bonds payable sebenarnya cukup sederhana. Perusahaan bertindak sebagai penerbit obligasi, sedangkan investor menjadi pihak yang menyediakan dana.
Ketika obligasi diterbitkan dan dibeli investor, perusahaan menerima dana sesuai nilai penerbitan. Selanjutnya, perusahaan memiliki kewajiban membayar bunga atau kupon secara berkala sesuai perjanjian.
Ketika obligasi mencapai jatuh tempo, perusahaan harus mengembalikan nilai pokok kepada pemegang obligasi.
Sebagai ilustrasi, perusahaan menerbitkan obligasi dengan nilai nominal Rp1 miliar dan kupon 6% per tahun dengan tenor lima tahun.
Jika bunga dibayarkan setahun sekali, perusahaan memiliki kewajiban membayar bunga sebesar Rp60 juta per tahun selama periode sesuai ketentuan obligasi. Ketika jatuh tempo, pokok Rp1 miliar juga harus dilunasi.
Dalam praktiknya, frekuensi pembayaran bunga, harga penerbitan, dan ketentuan pelunasan dapat berbeda-beda tergantung struktur obligasi.
Untuk memahami bonds payable, ada beberapa istilah yang perlu diketahui.
Nilai nominal atau face value adalah nilai pokok yang tercantum dalam obligasi. Nilai inilah yang umumnya akan dikembalikan perusahaan kepada pemegang obligasi ketika obligasi jatuh tempo.
Kupon atau coupon rate adalah tingkat bunga yang menjadi dasar pembayaran bunga kepada pemegang obligasi.
Misalnya, obligasi memiliki nilai nominal Rp1 juta dengan kupon 5% per tahun. Jika pembayaran dilakukan berdasarkan nilai nominal, bunga tahunannya adalah Rp50.000.
Tanggal jatuh tempo adalah tanggal ketika perusahaan harus melunasi nilai pokok obligasi sesuai dengan perjanjian penerbitan.
Obligasi tidak selalu diterbitkan tepat sebesar nilai nominal. Obligasi dapat diterbitkan pada harga pari, dengan diskonto, maupun dengan premi. Perbedaan antara nilai nominal dan harga penerbitan tersebut akan memengaruhi pencatatan akuntansi bonds payable.
Dalam akuntansi, bonds payable dapat diterbitkan dengan kondisi harga yang berbeda.
Obligasi diterbitkan pada harga yang sama dengan nilai nominalnya. Jika nilai nominal obligasi Rp1 miliar, maka perusahaan menerima dana sebesar Rp1 miliar. Kondisi ini disebut penerbitan pada nilai pari atau at par.
Obligasi diterbitkan dengan harga di bawah nilai nominal. Misalnya, nilai nominal obligasi Rp1 miliar, tetapi investor membelinya dengan harga Rp980 juta. Selisih Rp20 juta merupakan diskonto yang akan diperhitungkan dalam pencatatan dan pengakuan beban bunga selama masa obligasi sesuai metode akuntansi yang berlaku.
Sebaliknya, obligasi dapat diterbitkan dengan harga di atas nilai nominal. Misalnya, nilai nominalnya Rp1 miliar, tetapi investor membayar Rp1,02 miliar. Selisih Rp20 juta disebut premi obligasi dan akan diperhitungkan dalam akuntansi selama periode obligasi.
Penerbitan obligasi dapat menjadi salah satu alternatif pendanaan bagi perusahaan. Ada beberapa alasan perusahaan memilih menerbitkan obligasi.
Perusahaan dapat menggunakan dana hasil penerbitan obligasi untuk membuka cabang baru, membangun fasilitas produksi, membeli mesin, atau mengembangkan bisnis.
Obligasi memungkinkan perusahaan memperoleh pendanaan dari banyak investor sehingga dapat menghimpun dana dalam jumlah besar.
Karena obligasi umumnya memiliki tenor tertentu, instrumen ini dapat digunakan untuk membiayai proyek yang manfaat ekonominya diharapkan berlangsung dalam jangka panjang.
Obligasi menjadi salah satu pilihan sumber pendanaan selain fasilitas pinjaman dari perbankan. Perusahaan dapat memilih struktur pendanaan yang paling sesuai dengan kondisi dan strategi keuangannya.
Meskipun dapat menjadi sumber pendanaan, bonds payable juga menimbulkan kewajiban bagi perusahaan.
Perusahaan harus membayar bunga sesuai jadwal dan melunasi pokok ketika jatuh tempo. Jika kondisi keuangan perusahaan memburuk, kewajiban tersebut tetap harus diperhatikan.
Karena itu, sebelum menerbitkan obligasi, perusahaan perlu mempertimbangkan kemampuan menghasilkan arus kas yang cukup untuk memenuhi kewajibannya.
Bonds payable dan notes payable sama-sama merupakan kewajiban perusahaan, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda.
Bonds payable biasanya berkaitan dengan penerbitan obligasi kepada banyak investor dan umumnya digunakan untuk memperoleh pendanaan dalam jumlah besar.
Sementara itu, notes payable merupakan kewajiban berdasarkan surat utang atau perjanjian pinjaman tertentu dan dapat melibatkan pihak pemberi pinjaman yang lebih terbatas.
Perbedaan lainnya dapat terletak pada jangka waktu, mekanisme penerbitan, jumlah kreditur, serta struktur pembayaran.
Bonds payable umumnya dicatat sebagai bagian dari liabilitas dalam laporan posisi keuangan perusahaan.
Jika obligasi diterbitkan pada nilai nominal, pencatatannya relatif sederhana. Namun, jika diterbitkan dengan diskonto atau premi, selisih tersebut perlu diperhitungkan selama periode obligasi sesuai standar akuntansi yang berlaku.
Selain nilai pokok, perusahaan juga perlu mengakui beban bunga sesuai periode dan metode yang digunakan.
Karena itu, pencatatan bonds payable membutuhkan pemahaman mengenai nilai nominal, tingkat bunga, harga penerbitan, periode obligasi, serta metode amortisasi yang digunakan.
Misalnya, PT Maju Jaya menerbitkan obligasi dengan nilai nominal Rp5 miliar dan tenor lima tahun. Obligasi tersebut memiliki kupon 7% per tahun.
Investor membeli obligasi tersebut sehingga perusahaan memperoleh dana untuk membiayai ekspansi bisnis.
Selama periode obligasi, perusahaan memiliki kewajiban membayar bunga berdasarkan ketentuan yang telah disepakati. Setelah lima tahun, perusahaan harus mengembalikan pokok obligasi sebesar Rp5 miliar kepada pemegang obligasi, dengan memperhatikan ketentuan penerbitannya.
Dari contoh tersebut terlihat bahwa bonds payable bukan hanya sekadar dana yang diterima perusahaan, tetapi juga merupakan kewajiban yang harus dikelola hingga jatuh tempo.
Bonds payable adalah kewajiban jangka panjang perusahaan yang timbul karena penerbitan obligasi kepada investor. Melalui penerbitan obligasi, perusahaan dapat memperoleh dana untuk berbagai kebutuhan, seperti ekspansi bisnis, pembelian aset, maupun pembiayaan proyek jangka panjang.
Dalam mekanismenya, perusahaan menerima dana dari investor dan kemudian memiliki kewajiban membayar bunga serta mengembalikan pokok obligasi ketika jatuh tempo. Obligasi dapat diterbitkan pada nilai pari, diskonto, maupun premi, yang masing-masing memiliki perlakuan akuntansi berbeda.
Memahami bonds payable penting bagi siapa saja yang ingin mempelajari akuntansi, laporan keuangan, maupun dunia investasi. Bagi perusahaan, pemahaman tersebut membantu dalam mengelola kewajiban dan struktur pendanaan. Sementara bagi investor, memahami mekanisme obligasi dapat membantu dalam menilai bagaimana perusahaan memenuhi kewajiban kepada pemegang obligasi.
Selain memahami instrumen keuangan, memiliki perencanaan keuangan yang matang juga penting untuk menjaga dan mengembangkan aset dalam jangka panjang. Jika kamu ingin mendapatkan layanan dan solusi finansial yang lebih personal sesuai kebutuhan, Bank Sinarmas Prioritas dapat menjadi pilihan untuk mendukung berbagai kebutuhan pengelolaan kekayaanmu.
Tertarik mengelola aset dan merencanakan keuangan dengan lebih optimal? Kenali lebih jauh berbagai layanan eksklusif dari Bank Sinarmas Prioritas yang dirancang untuk memberikan pengalaman perbankan yang lebih personal, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan finansialmu.
👉 Kunjungi halaman Bank Sinarmas Prioritas sekarang dan temukan solusi pengelolaan kekayaan yang dapat membantumu mempersiapkan masa depan dengan lebih terencana di sini.
✨ Download dan pakai SimobiPlus di sini, Aplikasi Mobile banking dari Bank Sinarmas dan buat setiap langkah investasimu berarti.
💡 Lihat juga informasi layanan Bank Sinarmas lainnya di sini.
Maksimum nilai simpanan yang dijamin LPS
per Nasabah per bank adalah Rp2 miliar.
Untuk mengetahui tingkat suku bunga penjaminan LPS dapat dilihat di sini
© 2018 PT. Bank Sinarmas Tbk.